UN 2009, Ujian Kejujuran

By | 13/04/2009

Tepat seminggu lagi  dari hari ini, tepatnya tanggal 20 April 2009 bagi Anda yang sekarang duduk dikelas 3 SMA menghadapi babak terakhir yakni Ujian Nasional (UN). Dibanding tahun sebelumnya UN kali ini ada yang berbeda. Pertama, pass in grade (PIG) kelulusan naik, dari rata-rata seluruh bidang studi 5,25 menjadi 5,5. Yang kedua, melibatkan dosen dari beberapa PTN untuk mengawasi jalannya UN.

Sebenarnya jika ditelaah lebih lanjut, persyaratan kelulusan rata-rata 5,5 untuk semua bidang studi masih kecil. Dengan masa studi SMA selama 3 tahun harusnya jika siswa dididik secara maksimal bias mendapatkan angka jauh diatas itu. Tapi permasalahannya, pendidikan di Indonesia tidaklah merata. Kualitas guru, fasilitas pendidikan, bahan ajar seperti buku2, dan lain-lain tidak sama antara sekolah yang satu dengan yang lain. Jangankan di puncak jayawijaya yang nota bene jauh dari pusat kekuasaan, di pinggiran Jakarta saja masih ditemukan sekolah yang roboh dengan sendirinya. Memilukan..

Apa peranan dosen dalam UN? Mengapa UN harus diawasi?.

Kita tahu, UN di Indonesia menjadi momok bagi sebagian besar siswa. UN ibarat kartu mati yang harus dijauhi. Siswa umumnya hanya berharap lulus tanpa melakukan hal-hal yang wajar. Hukum alam seperti kerja keras akan mendapatkan hasil, belajar pangkal pandai, dan kata-kata motivasi lainnya tidak berarti. Kondisi ini diperparah dengan usaha kolektivitas guru, kepala sekolah bahkan pimpinan didaerah tersebut membentuk tim sukses untuk kelulusan UN. Ini benar-benar mencoreng wajah pendidikan kita. Guru, kepala sekolah dan orang-orang yang terlibat dalam proses pendidikan yang selama ini mengagungkan kejujuran di langgar sendiri. Yang ada hanya melakukan cara-cara instan, mengabaikan etika demi mengejar target kelulusan dan hanya untuk kepuasan semu.

Peranan dosen PTN inilah yang kita harap dapat meluruskan hal-hal negatip tentang UN. Dosen pulalah harapan kejujuran itu tercipta. Dengan pengalamannya menggelar perhelatan seleksi masuk PTN, dosen setidaknya bisa menjadi PANWASU (panitia pengawas ujian). Persoalannya seberapa banyak dosen yang dilibatkan dalam UN kali ini? Bagaimana dengan pelaksanaan UN yang jauh dari PTN?

UN, sebagai sarana evaluasi harusnya kita junjung tinggi. Di perhelatan inilah kualitas pendidikan Indonesia dipertaruhkan. Meningkatnya standar kelulusan jangan disikapi dengan reaktif. Dengan UN harusnya menjadi evaluasi bagi guru-guru disekolah dan semua yang terlibat dalam proses pendidikan, sejauh mana yang sudah diberikan ke siswa untuk mengubah pengetahuannya. Bukan malah mengotori dengan bentuk-bentuk kecurangan. Pada akhirnya, UN merupakan ujian kejujuran bagi semua komponen yang  terlibat dalam dunia pendidikan.

8 thoughts on “UN 2009, Ujian Kejujuran

  1. Pingback: UN dan SNMPTN diintegrasikan? : Sony Sugema College Jakarta

  2. Ali akhmad (opueka)

    Kwn, di tempatku lebih parah lagi. Guru yang terlibat menjawab soal-soal secara gotong royong. Kayaknya bukan lagi kecurangan, tapi pembangkangan. Sejenis pembangkangan sipil. Rakyat yang melawan pemimpinnya, karena pemimpin dholim pada rakyat, cuma tersembunyi. Semoga tidak ada lagi UN yang seragam. Idealnya, para penguasa pendidikan jujur saja, akui ada perbedaan kualitas pendidikan di berbagai daerah di Indonesia. Setelah itu buat soal yang yang diuji sesuai kemampuan tiap daerah. Jangan paksakan keadaanlah.

  3. admin Post author

    Ha..ha..ha.. akhirnya si anak pintar berpikir positip juga.. ya2..

  4. ips

    yah emang pinter” pa anak cimahi..
    mungkin mereka belajar serius dari kelas 1 nya karena udah ngerasa un bakal susah.
    *berpikir positif*
    OR
    mungkin ada tim suksesnya. or mereka bisa kerja sama pas ujian. jawaban anak” yang dirasa pintar disebar ke anak” yang dirasa kurang.
    *berpikir logik.*

  5. begotsa1 Post author

    tapi di medan ada tim suksesnya lo ndah.. di bandung, saya dengar juga ada (ngga ada data sich). Tau ngga, taon kemaren kelulusan cimahi 100%. Kok bisa ya ndah..

  6. ips

    iah pa, makanya un ga pernah diulang kan? karena selalu bocor soalnya, plus kunci jawabannya..
    saya selalu bingung sapa oknum yg bisa ngebocorin soal pa, koz kalo guru or kepala sekolah kan baru dapet soal pas pagi subuh katanya, jadi susah juga kalo mo bocorin soal, hmm,, saya curiga sama yg bagian penggandaan plus pendistribusian soal tuh pa.. ah whatever, hidup jujur ga bisa instan, musti dilatih dari kecil.
    kayanya dari sd dulu sy ga diDIDIK di sekolah tapi diAJAR pa. tau lah bedanya..

  7. admin Post author

    Un akan diulang kalo ngga bocor? menarik ndah kalo gitu… wah mengerikaan juga ya, siswa sekarang emang pintar.. dapat bocoran sebelum ujian. Ato malah guru, kepala sekolahnya yg keterlaluan. Mau membocorkan soal? Itulah potret pendidikan Indonesia. Mau nyumbang pemikiran Ndah? ditunggu..

  8. ips

    un bakal diulang kalo ga bocor pa. mo diawasin dosen juga, anak sma teh pinter, tetep aja bisa nyimpen kunci jawaban yang udah didapet sebelumnya di tempat” yang ga dicurigain sama si dosen”/pengawas” itu,, [hmm,, pengalaman pribadi ^^]
    mo dinaekin batas kelulusan sampe 99 juga, tetep aja bakal banyak yang lulus pa,, da anak” indonesia teh pinter”, pinter secara akademis, maupun pinter mencari jalan biar lulus dengan jalan instan, haha..
    kalo mo ujian yang bener, yah dibuat essay kaya uts sy sekarang,,tapi ga taw dah beres meriksanya kapan. hehe..

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This blog is kept spam free by WP-SpamFree.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.