Tepat seminggu lagi  dari hari ini, tepatnya tanggal 20 April 2009 bagi Anda yang sekarang duduk dikelas 3 SMA menghadapi babak terakhir yakni Ujian Nasional (UN). Dibanding tahun sebelumnya UN kali ini ada yang berbeda. Pertama, pass in grade (PIG) kelulusan naik, dari rata-rata seluruh bidang studi 5,25 menjadi 5,5. Yang kedua, melibatkan dosen dari beberapa PTN untuk mengawasi jalannya UN.

Sebenarnya jika ditelaah lebih lanjut, persyaratan kelulusan rata-rata 5,5 untuk semua bidang studi masih kecil. Dengan masa studi SMA selama 3 tahun harusnya jika siswa dididik secara maksimal bias mendapatkan angka jauh diatas itu. Tapi permasalahannya, pendidikan di Indonesia tidaklah merata. Kualitas guru, fasilitas pendidikan, bahan ajar seperti buku2, dan lain-lain tidak sama antara sekolah yang satu dengan yang lain. Jangankan di puncak jayawijaya yang nota bene jauh dari pusat kekuasaan, di pinggiran Jakarta saja masih ditemukan sekolah yang roboh dengan sendirinya. Memilukan..

Apa peranan dosen dalam UN? Mengapa UN harus diawasi?.

Kita tahu, UN di Indonesia menjadi momok bagi sebagian besar siswa. UN ibarat kartu mati yang harus dijauhi. Siswa umumnya hanya berharap lulus tanpa melakukan hal-hal yang wajar. Hukum alam seperti kerja keras akan mendapatkan hasil, belajar pangkal pandai, dan kata-kata motivasi lainnya tidak berarti. Kondisi ini diperparah dengan usaha kolektivitas guru, kepala sekolah bahkan pimpinan didaerah tersebut membentuk tim sukses untuk kelulusan UN. Ini benar-benar mencoreng wajah pendidikan kita. Guru, kepala sekolah dan orang-orang yang terlibat dalam proses pendidikan yang selama ini mengagungkan kejujuran di langgar sendiri. Yang ada hanya melakukan cara-cara instan, mengabaikan etika demi mengejar target kelulusan dan hanya untuk kepuasan semu.

Peranan dosen PTN inilah yang kita harap dapat meluruskan hal-hal negatip tentang UN. Dosen pulalah harapan kejujuran itu tercipta. Dengan pengalamannya menggelar perhelatan seleksi masuk PTN, dosen setidaknya bisa menjadi PANWASU (panitia pengawas ujian). Persoalannya seberapa banyak dosen yang dilibatkan dalam UN kali ini? Bagaimana dengan pelaksanaan UN yang jauh dari PTN?

UN, sebagai sarana evaluasi harusnya kita junjung tinggi. Di perhelatan inilah kualitas pendidikan Indonesia dipertaruhkan. Meningkatnya standar kelulusan jangan disikapi dengan reaktif. Dengan UN harusnya menjadi evaluasi bagi guru-guru disekolah dan semua yang terlibat dalam proses pendidikan, sejauh mana yang sudah diberikan ke siswa untuk mengubah pengetahuannya. Bukan malah mengotori dengan bentuk-bentuk kecurangan. Pada akhirnya, UN merupakan ujian kejujuran bagi semua komponen yang  terlibat dalam dunia pendidikan.