Seringkali dalam waktu luang saya mikir, apa yang selalu ada dalam benak Nordin M Top, kalo benar orang ini teroris. Jika benar apa yang diyakininya sehingga bisa menghalalkan cara hanya untuk memprotes tindakan Amerika, termasuk meledakkan sejumlah tempat dan membunuh banyak orang. Tidak pernah sekalipun saya memahami jalan pikirannya meskipun alasan ideologi.

Tetapi, terlepas dari apa yang dia lakukan berkali-kali di Indonesia, jika crita polisi dan banyak orang benar, saya salah satu orang yang salut dengan kepiawaiannya. Gimana bisa dengan waktu yang relatif singkat bisa meyakinkan seseorang untuk melakukan bom bunuh diri. Gimana bisa dia dapat meyakinkan seseorang mati sahid dengan cara membunuh orang lain, yang mungkin seagama dengan dirinya. Gimana pula si Nor dapat dengan mudah mengelabuhi polisi berkali-kali sehingga selalu lepas dari bidikan. Gimana juga caranya dia mencari dana, untuk biaya operasi yang dia lakukan. Saya tak habis berpikir dalam proses persembunyiannya yang mungkin sekali rawan terhadap nyawanya, mampu melalukan rekruitmen, mencari dana, memberikan doktrin ideologi, melakukan perencanaan, membuat bom dan kontroling terhadap kerja yang dia lakukan. Benar-benar luar biasa.

Saya jadi berpikir, seandainya saya Nordin M Top, apa yang saya lakukan? Mungkin saya akan berpikir lebih realistis:
1. Saya akan bantu rakyat palestina untuk merdeka, dengan merekrut, mendoktrin, dan memberikan pelatihan sebanyak mungkin orang dan mengirimkannya ke sana.
2. Dengan pengetahuan dan ketrampilan yang Saya miliki, Saya akan bantu rakyat dari negara-negara tertindas karena invasi AS atau sekutunya.

Tapi faktanya Nordin bukan Saya, dan Saya bukan Nordin. Kalo memang benar Nordin pelaku pengeboman itu, dan keyakinan Nordin tidak berubah, maka ancaman Bom di Indonesia tetap akan ada. Toh pada akhirnya Nordin tertangkap, tetap aja ada Nordin-Nordin lain.
Masalahnya dimana?
Sederhana, jika kemiskinan di Indonesia masih banyak, dan tingkat kesejahteraan dan tingkat pendidikan tidak juga meningkat, dalam kondisi ekonomi yang papa, kayaknya terlalu mudah mengiming-imingi seseorang dengan kebahagiaan di akhirat dengan mati sahid, meski cara yang ditempuh (menurut saya) tidak benar. Berarti yang salah pemerintah dong? Ya iyalah.. karena orang2 dipemerintahan yang membuat kebijakan pro rakyat ato  pro rakyat kaya..