Menjadi warga Negara yang baik dengan mau membayar pajak kok susah minta ampun. Ini pengalaman berharga bagi mereka yang akan mengurus NPWP. Berharap ingin tau bagaimana pelayanan prima yang ditawarkan dinas pajak, saya yang baru mempunyai akta pendirian sebuah perseroan komanditer berangkat pagi-pagi untuk mengurus NPWP perusahaan. Setelah sampai di kantor pajak yang beralamatan di jalan Sukarno Hatta itu, langsung bertanya sana-sini dan mengisi formulir, dan foto copy berkas gratis.

Setelah semuanya beres, tepat pukul 09.00 WIB mengambil antrial di mesin digital, dan dapatlah nomor antrian 856. Pada saat itu pelayanan nomor antrian sudah sampai nomor 825an. Saya berpikir lumayanlah tidak terlalu banyak dan worthed jika ditunggu. Pelayanan mulai berjalan terus dan dari sinilah saya melihat janggalnya pelayanan yang ditawarkan oleh kantornyaGayus ini yakni keberadaan frontdesk. Dari 6 meja dan computer perlengkapannya, hanya 2 yang terisi frontdesk,sedangkan 4 kursi lainnya dibiarkan kosong. Dengan antrian sebanyak itu mana mungkin bias terlayani,dari sinilah kejenuhan mulai muncul, terlebih hari dimana saya ngurus adalah hari jumat.

Layanan mengurus NPWP dan PKP hanya 1orang meski tersedia 2 komputer yang sebenarnya bisa untuk melayani. Layanan terus berjalan, dan sampai jam 12 siang, nomor antrian sampai nomor 855 (ingat saya di 856). Wajar sekali jika layanan berlangsung sangat lambat,karena kurangnya SDM frontdesk yang tersedia. Sungguh IRONIS perlakuan orang-orang dinas pajak dalam memberi layanan terhadap masyarakat. Dan sangat wajar jika lamanya layanan ini menumbuhkan calo antrian. Mau uang pajak dari rakyat tapi layanan sangat buruk. Pajak-pajak, kapan mau berubah. Jangan cumin menumbuhkan gayus-gayus baru aja bisanya..