Tidak terbayangkan Saya harus mudik bersama minibus Isuzu Phanter Hi-Sporty. Body mobil ini superjangkung, jika dikemudikan mirip mengemudikan bus dengan posisi sopir diatas sehingga tampak pandangan lebih lepas. Saya yang keseharian menggunakan mobil mini baleno, dengan minibus ini menempuh perjalanan ekstra jauh berjarak 1100 km. Jan Edan…

Perjalanan terasa mengasikkan bersama teman pengganti sopir kala lelah bernama Didi melalui jalur pantura (baca pantai utara). Dari Bandung Cirebon kemudian kanci, tidak ada masalah berarti. Sepanjang perjalanan dilalui sambil mendengarkan alunan musik pop yang diputar melalui pemutar DVD dengan audio bawaan. Cd yang Saya bawa ini adalah satu-satunya  CD yang menemani perjalanan.

Phanter Hi-Sporty ini merupakan mobil pesanan omku di Banyuwangi. Saya ngga tau kenapa omku yang memang penyuka mobil model jeep ini nitip membelikan mobil di Bandung. Padahal di Banyuwangi atau paling tidak di Jawa Timur banyak juga mobil sejenis yang diperjual belikan. Ya mungkin percaya, atau sengaja ngerjain ya, pada akhirnya memutuskan beli mobil di Bandung. Ngga pa2 sekalian bantu sodara. Setelah dapat mobil yang menurut Saya istimewa ditahunnya, mobil langsung di cabut berkas dan sebelum berkas turun, mobil dipulangkan ke Banyuwangi.

Kembali ke perjalanan, memilih jalur pantura, karena pengalaman ke Magelang, jalur selatan jalannya rusak parah dan bahkan sulit untuk dilewati. Harapan melalui jalur pantura, jalan lurus, lebar, sehingga bisa memacu kecepatan dan lekas sampai tujuan. Tetapi apa yang saya bayangkan tidak sesuai dengan kenyataan. Setelah melewati Kanci di jalur Pantura, jalannya mulai rusak parah. Setiap jalur diperbaiki setengahnya, dan jalan diiris sehingga menimbulkan lubang yang dalam. Dan bahkan didaerah tertentu (lupa namanya) sempat terjebak macet satu jaman. Mengerikannya, Saya musti melewati jalan yang terjal, dan untungnya bawa Phanter dengan body tinggi, coba bawa baleno bisa2 merontokkan blok mesinnya. Memang keterlaluan banget pemerintah Indonesia. Melayani masyarakat dengan membuat jalan yang layak saja ngga bisa-bisa, apalagi punya rencana lain seperti pendidikan gratis, kesehatan gratis, pelihara anak terlantar, dan lain-lain. Yang ada cuman berebut kekuasaan, dan lupa akan fungsi sebenarnya melayani dan mensejahterakan rakyat.

Memasuki Semarang, mobil diarahkan pintu tol arah Solo. Disinilah masalah terjadi, karena timbul keraguan apakah melewati Demak atau melewati solo. Sampai pada akhirnya bolak balik antara pintu tol kearah Solo(Tembelang) dan pintu tol kearah Surabaya.  Akhirnya diputuskan keluar pintu tol tembelang dan ke arah Solo.  Pada peejalanan ini sempat berhenti di rumah makan Pring Sewu. Meski makanan yang disajikan tidak selejat iklannya di sepanjang jalan, tapi cukup untuk mengganjal perut. Pada akhirnya sampai dikota Solo. Sambil tes drive mobil ini, ke Surabaya dengan memilih jalur Tawang Mangu. Jalanan berkelok-kelok melewati pegunungan dan indahnya lereng gunung Lawu tempat dimana Asmaraman Kho Ping Ho berada. Sempat beristirahat di tepian telaga Sarangan, pada akhirnya sampai dikota Magetan. Beristirahat di rumah Didi, yang menemani dari Bandung, dan perjalanan dilanjutkan ke kota Surabaya sampai pada akhirnya tiba di Banyuwangi. Sepanjang perjalanan di Jawa timur merupakan perjalanan mengasikkan, meski jalanan agak sempit tetapi jalanannya aspal supermulus, sehingga memperlancar perjalanan.

Akhirnya sampai juga di Banyuwangi. Asal tau saja, mobil berjenis minibus ini mengkonsumsi solar untuk jarak BandungBanyuwangi (1100 km) senilai Rp 350.000,- Angka fantastis.. seperti iklannya  Cring-cring-cring…

fullbody-kiri2