Saya pas acara Pasar Seni ITB 2010 terkejut dengan salah satu stand yakni ITB Jatinangor.. Kok ada ya.. padahal selama ini ITB ya cuman dijalan Ganesha no 10.. itulo jalan yang rudet, penuh dengan “tai kuda”, yang ujung jalannya ada “bonbin”, sebutan kebon binatang. Penasaran Saya terjawab sudah, karena keesokharinya, saya membaca di koran “PR” (baca pikiran rakyat), kalo ITB memang menjajagi kemungkinan membangun kampus baru di Jatinangor, setelah Universitas Wiyana Mukti (UNWIM) yang milik pemprov JABAR menyerahkan pengelolaannya pada ITB.

Hanya saja perlu dipikirkan lebih mendalam bagaimana kualitas kampus  yang diakuisisi ITB tersebut, karena dalam prosesnya nanti akan membawa nama besar ITB. Belum lagi masalah SDM yang ratusan baik dosen maupun karyawan yang nota bene perlu diupgrade sesuai dengan standard ITB, serta fasilitas seperti gedung dan laboratorium yang pembangunannya menurut rektor ITB membutuhkan dana yang tidak sedikit (1 triliun, nolnya berapa ya..).

Konyolnya lagi, diluar ITB kampus Jatinangor, ITB juga menjajagi kemungkinan dibukannya kampus yang berlambang gajah ini ditempat lain, seperti Bekasi, dan perumahan Walini, itulo yang ketika lewat jalan tol ada judl perumahannya, lepikir merk teh.. Jika kemungkinan2 itu terjadi bahwa ITB bisa dibuka dimana2 aja, berarti ITB bukan kampus yang sakral lagi, artinya ada juga kemungkinan membuka kampus ITB di Banyuwangi, bukankah sama-sama berawalan B, sehingga tidak usah mengganti akronimnya, cukup dipanjangkan ITB, Institut Teknologi Banyuwangi..  Aya-aya Wae..