Tidak dapat dipungkiri bahwa bumi yang kita pijak dibentuk dari lempengan/patahan bumi. Ini tak lepas dari proses pembentukan daratan yang berasal dari satu benua yakni Pangea, yang kemudian benua tunggal super raksasa ini terpecah lagi menjadi 2 benua yakni gondwana (terdiri atas antartik, australia, India, Amerika selatan, Selandia Baru, dan sebagian asia timur dan tenggara) dan laurasia (yang terdiri atas amerika utara, eropa dan sebagian besar benua asia).

Sejarah terbentuknya kepulauan Indonesia dan Pilipina teramat rumit, dan bahkan menimbulkan berbagai pendapat. Hanya saja dari riset ahli kebanyakan berpendapat bahwa Indonesia secara tektonik ditekan oleh 3 lempeng bumi, yakni dari Australia, Asia, dan Pasifik.  Sebagai gambaran, Indonesia seperti sebuah papan yang ditekan buldoser dari samping dengan kecepatan tetap yakni sebanyak 1 cm / tahun. Inilah yang menimbulkan retakan pada kepulauan Indonesia.

Lempeng Australia berdekatan langsung dengan daerah Jawa Barat, lempeng dari Pasifik berdekatan langsung dengan daerah Sulawesi dan Papua, sedangkan lempeng Asia berdekatan dengan Sumatera. Sehingga di daerah-daerah tersebut rawan terjadi gempa.

Kecepatan pergerakan lempeng dapat mencapai 7 cm per tahun, akibat dorongan lempeng-lempeng ini Gunung tertentu seperti Himalaya masih terus bertambah ketinggiannya.

Gempa sendiri, tejadi akibat dari benturan antar lempeng. Selain itu  gempa juga dapat menimbulkan displacement atau pergeseran. Adanya pergeseran lempeng bumi inilah yang menyebabkan gempa berdampak sangat merusak kehidupan yang ada di atasnya, seperti misalnya gempa yang terjadi di Jogjakarta.

Bagaimana suatu gempa dapat berdampak timbulnya tsunami seperti di Aceh dan Pangandaran? Gempa dapat menimbulkan tsunami terjadi kalau di permukaan dasar laut terjadi pergeseran naik dan turun, sehingga menyebabkan kenaikan air laut. Gempa berskala 6 skala Richter memungkinkan adanya tsunami. Selain itu ditandai dengan adanya surutnya laut.

Meskipun gempa yang terjadi di laut dekat tasikmalaya (rabu, 2 September 2009) besarnya 7,3 skala Richter, tetapi tidak terjadi tsunami, ini akibat dari jauhnya sumber gempa (142 km) dan pola pergeseran lempeng yang sejajar dan bukan pergeseran naik-turun.