Sudah cerita lama, kalo mudik itu menjadi kewajiban tiap tahunnya.. Dari masih bujang, hingga sekarang ma keluarga, namanya mudik tetap dilakukan. Dari naik angkutan umum kelas ekonomi,bisnis hingga eksekutif pernah dilakuin. Setelah punya kendaraan sendiripun, nyetir sendiri juga dijabani. Padahal apa sih untungnya mudik? Kenapa orang-orang seperti Saya, yang bahkan sudah tidak punya ortu, tetap saja mudik dilakukan…

Kampung halaman, memang mempunyai cerita sendiri. Meskipun teman-teman sudah mempunyai kehidupan sendiri, tetap saja pulang ke kampung halaman menumbuhkan kenangan dimasa kecil. Padahal, yang namanya mudik tidak hanya butuh persiapan uang semata, fisik dan mentalpun juga harus siap. Terlebih perjalanan menuju kampung halaman menyusuri semua daerah dijawa. Aku yang sekarang tinggal di Bandung, ketika mudik menempuh perjalanan 1200 km ke arah Muncar, daerah paling timur di ujung pulau Jawa.

Minusnya Mudik?

Ritual mudik memang mengasikkan. Tetapi bukan berarti mudik hanya melulu menyenangkan. Banyak hal-hal yang menurutku semacam kerugian kalau hitung-hitungan.

(1) Mudik menguras kantong. Bukan rahasia lagi untuk mudik perlu persiapan super ekstra, dari kondisi fisik mobil, bekal selama perjalanan, baju baru tuk keluarga untuk merayakan hari raya, uang foya-foya untuk berbagi ke keluarga (ponakan, adik ipar, dan lain-lain). Realnya:
– Mobil : cek kaki2, ganti ban sepasang depan, sporing balancing, ganti oli, tune up, dll Rp. 5.000.000,-
– Bensin, wisata pas pulang, makan diperjalanan, belanja di Jogja, oleh2 dll, Rp. 4.000.000,-
– Kadeudeuh (angpao), buat ponakan, adik ipar, bibi, nenek,Rp 2.000.000,-
– Makan, wisata dikampung, bensin tranportasi lokal, dll, Rp 2.000.000,-

(2) Mudik bikin tenaga terkuras abis. Anda bisa bayangkan menyetir mobil dengan jarak 1200 km. Saya berangkat dari bandung biasanya sampai tujuan bisa 3 hari 3 malam, karena dalam perjalanan ada jalan-jalannya.. Dan semua kegiatan per-setiran saya lakukan sendiri tanpa ada yang inval..

(3) Mudik berimbas pada kondite dan penghasilan. bagaimana tidak, saya yang masih juga bekerja pada orang lain, dengan jarak yang super jauh membuat Saya sampai ke kantor paling belakang, akibatnya kondite menjadi buruk dan penghasilan bulan setelah mudik juga menurun draktis..

Untungnya Mudik..

Apa ya… Yang jelas gini lo. Saya di Bandung dalam keseharian super sibuk, Kerja di tempat orang lain, ngurus perusahaan sendiri dan lain-lain, akibanya…ya stresslah.. terlebih bandung tuh macetnya minta ampun.. Dengan mudik, seolah2 saya itu di pitstop sehingga me refresh kesibukan harian..Meski secara finansial, waktu, tenaga rugi, tapi dengan mudik, membuat pikiran jadi fresh ketika di Bandung lagi.. So.. Kutunggu mudik di lebaran mendatang, amin…