Dunia anak adalah dunia permainan. Mereka begitu suka bermain, mengambil peran dari tokoh-tokoh tertentu, seperti pahlawan, orang tua, dokter, suster atau sekedar pembantu rumah tangga. Bahkan karena asiknya bermain mereka lupa akan kebutuhan primernya, seperti makan, minum, mandi atau belajar. Tetapi bukan berarti melihat perilaku mereka terus kita orang tua menyimpulkan bahwa cara itu tidak ada manfaatnya. Malahan dengan permainan itulah mereka bisa bersosialisasi dan berinteraksi dengan teman-temannya. Permainan itu pula menjadi sarana efektif untuk mengembangkan imajinasi dan mengekspresikan diri.Bentuk permainan yang dimaksud di atas adalah jenis permainan tradisionil, yang melibatkan beberapa anak. Bukan bentuk permainan virtual seperti game-game di komputer, nintendo atau playstation. Game-game virtual sedapat mungkin di hindarkan dari dunia anak, karena pada game-game ini membuat anak menjadi egois, individualis, dan seringkali mengajarkan anak pada dunia kekerasan. Pada gilirannya anak menjadi brutal dan tak terkendali dan anak malahan menjadi korban dari permainan itu. Hal ini terjadi karena anak menjadi “kecanduan” dan lupa akan kebutuhannya sendiri yang sebenarnya lebih penting.

 Apapun bentuk permainannya (baca permainan tradisional), dalam batas waktu yang wajar masih tidak menimbulkan masalah, tetapi jika permainan sudah melampui batas waktu pada gilirannya akan menimbulkan masalah dalam proses belajar mereka. Karena anak menjadi capek dan tidak ada waktu lagi untuk membuka buku pelajarannya, yang pada gilirannya si anak menjadi kurang berprestasi di sekolah. Sebenarnya inilah masalah klasik di dunia anak. Olehnya peranan kita sebagai orang tua sangat menentukan terutama mengubah sikap anak dalam menghadapi kecanduan terhadap permainan menjadi anak yang bisa memanage waktu antara permainan dan kebutuhan belajarnya. Sehingga, kita akan menciptakan anak yang tidak kehilangan “masa” bermainnya tanpa mengabaikan kebutuhan primernya, belajar.

 Proses belajar sendiri tidak boleh dipaksakan, terlebih pada dunia anak. Belajar harus dilakukan secara sukarela dan tanpa tekanan. Belajar yang dipaksakan akan membuat anak frustasi dan hasilnya sangat sedikit. Belajar harus memang melibatkan emosi mereka. Belajar akan efektif jika dalam keadaan senang, fun. Tetapi permasalahannya tidak jarang menemukan anak yang kurang tertarik terhadap suatu materi pelajaran. Disinilah peranan orang tua yang dapat menjadi teman bagi mereka untuk mengubah sikapnya. Beberapa langkah yang mungkin bisa dilakukan:

 Bawalah dunia mereka ke dunia kita dan antarkan dunia kita ke dunia mereka.
Filosofi ini di ambil dari konsep quantum teaching, bahwa untuk bisa mempengaruhi anak kita, langkah pertama yang musti dilakukan adalah memasuki dunia mereka  dan kita bawa dunia mereka ke dunia kita.  Ini tidak mudah, karena pendekatan yang dilakukan menggunakan berbagai aspek seperti pikiran, perasaan dan bahasa tubuh, yang ujung-ujungnya membutuhkan sebagian waktu kita sebagai orang tua. Tentunya kita sependapat bahwa untuk anak yang kita cinta, apapun akan kita lakukan terutama untuk hal-hal kebaikan.

 Melalui pendekatan ini anak tanpa sadar dan sukarela diajak dan dipengaruhi tentang segala bentuk kegiatannya. Intinya bahwa menanamkan kepercayaan, terutama kepercayaan anak terhadap orang tuanya. Adalah sifat alamiah manusia, bahwa kepercayaan sangat penting artinya dalam proses menstransfer pengetahuan dan sikap. Dengan anak percaya kepada kita, maka akan mudah bagi kita untuk mengubah sikap dan mempengaruhinya menuju hal yang kita inginkan. Sehingga, anak nanti akan belajar dengan sukarela dan tanpa paksaan.

 Akui segala bentuk usaha dan prestasinya
Mengubah sikap anak untuk mencintai semua mata pelajarannya memang sulit, tetapi dengan usaha sungguh bisa dilakukan. Langkah yang mungkin dilakukan adalah dengan menunjukkan penting dan kegunaan mata pelajaran tersebut, termasuk dalam “dunia” permainan, yang menarik baginya. Sehingga, anak akan tumbuh kesadaran bahwa pelajaran itu penting baginya dan mendorong mereka untuk belajar secara sadar dan senang.

Ketika anak sudah mencapai tahap memahami pentingnya pelajaran, tetapi tidak jarang dalam perjalanannya menemui kesulitan dalam belajar dan mulai “mogok” belajar, maka janganlah kita berputus asa dengan cara membentaknya atau merelakan dan membiarkan mereka tidak belajar. Cara terbaik adalah dengan mendengar keluhannya dan berempati sembari menanamkan pengertian bahwa ” Dibalik kesulitan pasti terdapat kemudahan”.

Apapun usaha yang dilakukan anak, kita harus mengakuinya, termasuk juga prestasinya. Anak kita bukan robot yang bisa diprogram seperti halnya robot-robot di dalam film. Anak kita riil, yang dalam mendidiknya butuh sentuhan emosi dan perasaan. Olehnya apapun usaha dan prestasinya harus selalu kita dukung dan berusaha untuk meningkatkannya.

 Berikan kisah sukses yang dicapai seseorang
Tidak ada salahnya kita membeli buku-buku biografi tentang kisah sukses seseorang. Banyak buku-buku tentang kisah sukses ilmuwan dibidang matematika, biologi, fisika, dan lain-lain yang diperjualbelikan. Kita bisa memilihnya sesuai dengan kebutuhan. Jika anak tidak suka membacanya, tidak ada salahnya kita menceritakannya di waktu senggang.

Hal yang diharapkan dari cerita sukses ilmuwan adalah timbulnya proses identifikasi anak terhadap tokoh yang diminati. Jika ini terjadi, anak akan berusaha semaksimal mungkin untuk melakukan hal-hal yang juga dilakukan oleh tokoh idolanya, tentunya termasuk juga belajar. Jika ini sudah terjadi maka akan timbul kegairahan belajar tiada henti tanpa kita mesti sulit memberikan motivasi.

 Rayakan setiap bentuk prestasi yang dicapai.
Belajar harus mempunyai target. Belajar juga harus punya tujuan. Dengan menggunakan target dan tujuan, maka kita akan dapat menentukan tingkat keberhasilan anak apakah sudah tercapai tujuan dan target yang akan dicapai. Dalam istilah kerennya “mengacu pada tujuan akhir”.  Di dunia sekolah mungkin target yang realistis adalah mencapai prestasi / mendapatkan rangking terbaik. Jika hal ini bisa dicapai tidak ada salahnya merayakan pencapaian ini, misalnya dalam bentuk pemberian hadiah ke anak dan atau mungkin cukup berupa pujian saja yang sifatnya motivatif. Hadiahnya hendaknya dipilih yang positif dan mendidik.

Merayakan keberhasilan dalam konsep quantum teaching penting artinya, karena dapat berfungsi sebagai umpan balik bagi kemajuan dan meningkatkan asosiasi emosi positif dengan belajar.

(Disarikan dari Quantum Teaching dan Melejitkan IQ, IE, & IS)