Kelirumologi Sistem Pendidikan Vs Acccelerated Learning

By | 23/03/2009

Ada banyak data menggambarkan bahwa otak manusia terdiri dari bermilyar-milyar sel aktif. Dan dari bermilyar-milyar sel aktif tersebut mampu membangun koneksi hingga 20.000 jalur setiap detiknya. Sambungan-sambungan inilah sebenarnya sumber dari kekuatan otak. Tetapi  kita umumnya  kesulitan memahami besarnya potensi tersebut.

Sebagai gambaran perbandingan, kita bisa mengambil data pada tahun 1997, ketika dunia terjadi booming internet, manusia dalam 3 hari hanya mampu membangun koneksi 200 juta diantara pengguna komputer didunia. Sedangkan otak kita mampu membuat jaringan 15 kali lebih besar dalam satu detik dibandingkan jaringan internet dalam 3 hari. Makanya sangatlah wajar Gordon Dryden menyatakan, “You’re the owner of the world’s most powerful computer“; Anda adalah pemilik komputer paling hebat di dunia.

Potensi otak memang luar biasa. Memahami besarnya potensi tersebut ibarat berwisata ke luar angkasa, sebuah wilayah yang tidak terpetakan. Padahal otak adalah sumber kecerdasan manusia. Untuk mengoptimalkan kerjanya tidak boleh tidak harus memahami sistem kerjanya. Para ahlipun menyatakan bahwa potensi otak tersebut dapat dioptimalkan, sehingga bisa mendapatkan hasil yang luar biasa, yang dalam konteks pendidikan adalah hasil belajar. Tetapi perlakuan yang salah dengan memberikan lingkungan dan sistem belajar yang tidak mendukung akan memenjarakan potensi otak tersebut, dan pada akhirnya berujung pada kegagalan dalam segala aspek.

Kelirumologi sistem pendidikan
Jika kita ingin melihat cara belajar yang baik, kita bisa berguru pada anak-anak. Mereka belajar dengan seluruh organ indra yang dimilikinya dan dilakukan dengan Fun, senang. Sehingga apapun yang mereka pelajari,  dengan mudah dapat memahami dan melakukannya dengan benar. Anak kita belajar tengkurap pada usia 8 bulan, belajar bicara pada usia 12 bulan, belajar berdiri pada usia 1,5 tahun, dan seterusnya. Mereka betul-betul mengalami proses belajar yang luar biasa. Tetapi sangat ironis ketika melihat sistem pendidikan kita, banyak hal-hal yang sebenarnya membunuh kreatifitas anak, ujungnya kita akan melahirkan banyak anak yang pasif, pesimis, takut dan lain-lain.

Meminjam istilah Jaya Suprana kita bisa melihat beberapa kelirumologi sistem pendidikan kita antara lain:

1.  Indoktrinasi
Banyak sekolah yang melakukan kegiatan belajar dengan sistem doktrin. Guru bertindak sebagai narasumber yang serba bisa. Perkataan guru tidak boleh dibantah karena selalu benar, sedangkan apapun yang dikatakan anak semuanya salah. Dalam kasus ini guru tak ubahnya seperti dokter atau dukun yang serba bisa. Belajar selalu berisi dengan kegiatan hafalan, dan tanpa kegembiraan. Kreatifitas anak harus ditindas dan dijinakkan. Logika kaku, dingin dan analistis dianggap sebagai satu-satunya jalan yang benar untuk mencari pengetahuan. Sehingga ujung-ujungnya anak menjadi tertekan, menderita mental, apatis dan pemurung. Bertanya pada guru merasa segan, dan otak anak menjadi terpenjara.

Sebaik apapun metode yang digunakan, jika dalam penyampaian materi tidak dalam keadaan Fun, akan mendapatkan hasil yang sangat sedikit. Kunci Akselerasi belajar adalah mengembalikan kegembiraan dalam belajar. Anak-anak akan belajar paling baik dalam lingkungan yang ditandai dengan adanya minat dan kebahagiaan pribadi dan bukan lingkungan penuh intimidasi, kebosanan dan stress. Kegembiraan dalam akselerasi belajar adanya kedamaian yang mendalam dan tenang serta perasaan saling terkait, utuh, dan terlibat. Jika ini dilakukan akan mendapatkan hasil belajar yang menakjubkan.

2. Sekolah Model Pabrik
Banyak pendidikan formal di-kita masih beranggapan bahwa sekolah tak ubahnya seperti pabrik. Siswa merupakan bahan produksi dan setelah diolah sekian tahun akan menjadi produk berkualitas. Peran guru disini tak ubah seorang ahli proses produksi. Model belajar yang digunakan biasanya satu jalur, standar, satu gaya, yang didasarkan pada waktu dan dibatasi ruang kelas. Tetapi dengan model ini sebenarnya sama saja dengan menciptakan rumah tahanan bagi anak. Anak belajar dengan terpaksa dan mengisi waktu selama beberapa tahun yang sudah ditentukan.

Dalam konsep Accerated Learning, jika mengoptimalkan belajar harus dengan berbagai gaya, atau bisa dianalogkan sebagai model penyajian makanan secara prasmanan akan lebih baik jika dibandingkan dengan model penyajian nasi rames. Meraih kesuksesan dalam belajar tidak cukup dengan satu cara, meskipun cara tersebut dianggap terbaik. Media apapun bisa digunakan, metode apapun juga sah dipakai. Membahas sebuah materi pelajaran harus dengan berbagai gaya, agar semua siswa bisa menerima sesuai dengan gaya belajarnya masing-masing. Siswa dibebaskan berkreasi mendapatkan cara terbaik dalam menerima materi pelajaran.  

 3. Paham Individualisme

Berkembangnya teknologi berimbas pada pandangan mendidik anak. Dulu, ketika komputer belum booming, anak-anak bermain cukup dengan gundu bersama anak lainnya dihalaman. Dalam kasus ini anak juga belajar berinteraksi dengan teman-temannya. Tetapi ketika komputer sudah dimiliki hampir setiap rumah, anak-anak terpolakan bermain game-game virtual. Belajar cukup sendiri, dan sosialisasi hanya dengan mesin. Akibatnya hasilnya tidak akan optimal.

Hasil penelitian di Community College Florida, belajar secara bersama-sama 300% lebih efektif jika dibandingkan belajar secara mandiri. Belajar dari pengalaman siswa lain akan lebih baik hasilnya. Jika diantara siswa saling membantu dalam proses belajar, pembelajaran akan meningkat pesat. Ini sebagai gambaran bahwa menumbuhkan sikap individualisme sangat tidak memberi keuntungan.              

4. Peran Media Cetak

Ketika Johannes Gutenberg pada tahun 1440 menemukan mesin cetak, secara global ternyata berpengaruh nyata pada pendidikan. Buku-buku jadi tersebar luas. Orang dalam belajar tidak harus menyelami sendiri dunia nyata atau bergaul dengan orang lain. Mereka dapat belajar sendiri dengan membaca buku, koran, majalah, dan lain-lain.  KATA-KATA adalah sarana satu-satunya untuk mendapatkan pengetahuan. Dan belajar menekankan pada proses mekanis dan linier. Akibatnya, otak kiri akan berkembang dengan baik, sementara otak kanan terpenjarakan.

Buku memang sarana yang baik dalam belajar. Tetapi,  buku itu sendirian, tanpa keseimbangan dari pengalaman seluruh otak, sehingga tidak memadai untuk menciptakan pengetahuan dan pemahaman sejati. Belajar yang benar meliputi bukan hanya dengan buku, tetapi juga pengalaman, tidak cukup dengan kata tetapi juga gambar, bukan hanya dengan otak kiri, tetapi juga otak kanan, tidak hanya melalui proses berurutan tetapi juga simultan.  Ada kata-kata bijak yakni “Jika Anda mencari informasi, bacalah kata-kata. Jika Anda memerlukan pemahaman, milikilah pengalaman“.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This blog is kept spam free by WP-SpamFree.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.